Ruang interviu itu berdinding kaca, namun terasa seperti labirin yang terbuat dari kabut. Di luar, hujan luruh seperti jarum-jarum perak yang menjahit kesepian kota. Di atas meja kayu, dua cangkir kopi hitam mengepulkan doa-doa kecil yang tak pernah diaminkan.
Seorang HRD, yang matanya menyimpan lanskap masa lalu, menatap calon Calon Analis Laboratorium di hadapannya
HRD: (Mengetuk pelan map berisi riwayat hidup) "Kertas-kertas ini menceritakan riwayat nilai dan deretan ijazahmu. Tapi ia terlalu bisu untuk menceritakan seberapa tabah kau menghadapi sepi. Di laboratorium nanti, kau akan lebih sering bercakap-cakap dengan instrument dan tabung reaksi ketimbang manusia. Apakah kau pandai merawat kesunyian?"
Calon Analis: (Tersenyum tipis, matanya setenang air di dalam erlenmeyer) "Kesunyian bukanlah kekosongan, Pak. Di dalam lab, sepi adalah kanvas tempat zat-zat menari. Saya tidak merasa sendiri saat menimbang takaran. Bagi saya, setiap reaksi kimia adalah pertemuan sepasang rindu yang telah lama saling mencari. Saya hanya saksi yang mencatat kapan mereka akhirnya melebur menjadi satu."
HRD: (Menyesap kopinya perlahan) "Puitis sekali untuk seseorang yang hidup di antara angka dan rumus yang kaku. Tapi, pekerjaan ini adalah tentang presisi. Kesalahan setetes cairan bisa menggagalkan sebuah uji. Bisakah puisimu menyelamatkan kegagalan semacam itu?"
Calon Analis: "Justru karena saya memahami presisi, saya tahu ada puisi di dalamnya. Bukankah hidup ini seperti proses titrasi? Kita meneteskan usaha perlahan-lahan, setetes demi setetes, menahan napas menunggu kapan warna kehidupan itu berubah. Jika kita terburu-buru, kita merusak keseimbangannya. Saya adalah orang yang tahu kapan harus menghentikan tetesan itu, sebelum segalanya menjadi terlalu asam atau terlalu basa."
HRD: (Terkekeh pelan, tawa yang terdengar seperti daun kering terinjak) "Laboratorium ini adalah sebuah bejana yang besar. Kadang ia mendidih oleh tekanan target, kadang ia membeku oleh birokrasi. Sebagai zat yang baru akan dilarutkan ke dalamnya, apakah kau akan larut dan kehilangan dirimu, atau kau akan menjadi endapan yang keras kepala?"
Calon Analis: "Saya lebih suka menjadi katalis. Saya akan berada di sana, di tengah reaktor yang mendidih, membantu mempercepat hal-hal baik terjadi. Namun pada akhirnya, ketika reaksi itu selesai dan Laboratorium telah mendapatkan hasilnya, saya tetaplah diri saya sendiri. Utuh. Tidak berkurang sedikit pun nilai dan prinsip saya."
HRD: (Menutup map perlahan, matanya menatap tajam namun hangat) "Manusia sering kali mengerdilkan nilai usianya dalam deretan angka di slip gaji. Berapa harga yang kau minta, untuk sebagian sisa umur yang akan kau jaminkan di antara bau alkohol dan sarung tangan lateks di laboratorium kami?"
Calon Analis: "Cukup untuk membeli segelas kopi hangat di kala hujan menderas, dan beberapa buku untuk menjaga kewarasan. Selebihnya, biarlah ketenangan batin yang membayar sisanya. Angka yang Bapak tawarkan nanti, saya percayai, bukanlah harga dari tubuh saya, melainkan cermin dari seberapa dalam Bapak menghargai ketelitian seorang analis lab yang menjaga rahasia-rahasia kecil Laboratorium."
HRD: (Menyandarkan punggungnya, menatap ke luar jendela tempat hujan mulai reda) "Besok, datanglah pagi-pagi. Bawa jas putihmu. Kita punya banyak sampel yang harus diuji, dan mungkin... beberapa kesedihan yang harus dinetralkan. Selamat datang di laboratorium kehidupan."
Calon Analis: "Terima kasih. Akan saya pastikan, tidak ada tabung kesabaran yang pecah besok pagi."
#DialogPuitis #DialogImajiner #AnalisLaboratorium #WawancaraKerja #PekerjaLaboratorium #FilosofiKimia #SajakLaboratorium #TitrasiKehidupan #KatalisKebaikan #SenyawaRindu #RuangInterviu
