menu melayang

6 Strategi Cerdas Akreditasi ISO/IEC 17025 : Menyeimbangkan Ruang Lingkup dan Biaya Operasional

 Jangan Biarkan Laboratorium anda boncos, akibat akreditasi menguras kas. Perlu Tips Cerdas Mengatur Ruang Lingkup Lab untuk menyeimbangkan antara jumlah ruang lingkup akreditasi ISO/IEC 17025:2017

 


Biaya investasi (dan pemeliharaan) akreditasi ISO/IEC 17025:2017 yang tinggi adalah salah satu tantangan terbesar dalam manajemen laboratorium. Akreditasi memang tidak murah; ada biaya asesmen KAN, Uji Profisiensi (UP), pembelian Certified Reference Material (CRM), kalibrasi alat, hingga pelatihan personel.

 

Agar sertifikat akreditasi tersebut tidak sekadar menjadi "pajangan mahal" tetapi benar-benar menghasilkan Return on Investment (ROI) yang optimal, berikut adalah strategi komprehensif yang bisa diterapkan:

 

1. Terapkan Prinsip Pareto (Aturan 80/20) pada Parameter Uji

 

Tidak semua kemampuan laboratorium harus langsung diakreditasikan. Analisis data historis permintaan pengujian Anda. Biasanya, 20% dari jenis parameter pengujian menghasilkan 80% dari total pendapatan laboratorium.

  • Fokuskan ruang lingkup awal hanya pada parameter "Core" (bervolume tinggi atau yang wajib secara regulasi).
  • Jangan memaksakan akreditasi untuk parameter yang permintaannya hanya 1-2 kali setahun, kecuali margin keuntungannya sangat fantastis

 


2. Evaluasi Cost of Quality (CoQ) per Parameter

 

Setiap penambahan satu parameter ke dalam ruang lingkup membawa "biaya tak kasat mata" yang wajib dipenuhi setiap tahun. Sebelum menambahkan parameter, hitung dengan cermat:

  • Berapa biaya kalibrasi spesifik untuk alat ukurnya?
  • Berapa harga CRM standar yang masa kadaluarsanya cepat?
  • Berapa biaya keikutsertaan Uji Profisiensi (UP) atau Uji Banding Antar Laboratorium (UBAL) tahunannya? Jika proyeksi pendapatan dari parameter tersebut tidak bisa menutup ketiga running cost di atas, lebih baik parameter tersebut dikeluarkan dari rencana ruang lingkup

 


3. Optimalisasi Pengelompokan Instrumen

 

Maksimalkan utilitas alat yang sudah ada. Jika laboratorium memiliki instrumen dengan biaya operasional tinggi seperti GF-AAS atau HPLC, sangat disarankan untuk mendaftarkan ruang lingkup yang mencakup beberapa parameter sekaligus menggunakan instrumen tersebut. Satu kali kalibrasi instrumen dan satu kali maintenance bisa mencakup banyak jenis analisis, sehingga biaya operasional alat bisa "dibagi rata" ke beberapa parameter, membuat cost per test menjadi lebih murah.

 


4. Ekspansi Ruang Lingkup Secara Bertahap (Phasing)

Jangan langsung rakus mendaftarkan puluhan parameter pada asesmen awal (inisial). Mulailah dengan ruang lingkup inti yang kuat. Saat laboratorium sudah mulai mendapatkan income dari sertifikat awal tersebut, gunakan keuntungannya untuk membiayai penambahan ruang lingkup pada saat asesmen Survailen berikutnya. Pendekatan ini sangat menjaga arus kas (cash flow) agar tidak berdarah-darah di depan.

 


5. Strategi Subkontrak untuk Parameter Niche


Parameter Niche mengacu pada jenis pengujian yang sangat spesifik, khusus, dan biasanya memiliki target pasar yang kecil atau jarang diminta oleh pelanggan reguler.

Kata niche di sini menggambarkan sesuatu yang tidak bersifat umum atau massal.

Berikut adalah karakteristik utama dari sebuah Parameter Niche:

  • Volume Permintaan Rendah: Order atau sampel yang masuk untuk parameter ini sangat jarang, mungkin hanya beberapa kali dalam sebulan atau bahkan setahun.

  • Kebutuhan Alat Khusus dan Mahal: Membutuhkan instrumen analitik atau alat ukur yang investasinya sangat tinggi (misalnya: instrumen High-Resolution Mass Spectrometry yang sangat spesifik).

  • Keahlian Tingkat Tinggi: Membutuhkan analis atau teknisi dengan pelatihan khusus, sertifikasi langka, atau kompetensi spesifik yang tidak dimiliki oleh staf laboratorium pada umumnya.

  • Biaya Pemeliharaan Tinggi: Meskipun jarang digunakan, reagen, bahan kimia standar, biaya kalibrasi alat, dan perawatan instrumen untuk parameter ini tetap harus dibayar mahal agar selalu memenuhi standar kualitas (seperti ISO/IEC 17025).

Untuk pengujian yang jarang diminta oleh pelanggan namun sesekali tetap dibutuhkan untuk pelayanan satu pintu (one-stop service), manfaatkan klausul 7.1 (Kajian Permintaan, Tender, dan Kontrak) terkait subkontrak. Alih-alih menghabiskan biaya untuk mengakreditasi dan memelihara parameter tersebut sendiri, subkontrakkan saja pengujiannya ke laboratorium lain yang sudah terakreditasi. Laboratorium Anda tetap bisa mengambil margin pelayanan tanpa menanggung beban biaya mutu tahunan.

 


6. Bedakan antara "Kemampuan Lab" dan "Ruang Lingkup Akreditasi"

 

Laboratorium Anda mungkin mampu menguji 50 parameter dengan baik menggunakan prinsip Good Laboratory Practice (GLP). Namun, cukup akreditasikan 15-20 parameter yang paling komersial atau dipersyaratkan oleh regulasi pasar. Sisa pengujian lainnya tetap bisa dilayani sebagai pengujian non-akreditasi (tentunya dengan mengkomunikasikan hal ini secara transparan kepada pelanggan sesuai klausul kontrak).

 



Laboratorium yang sehat bukanlah laboratorium yang mendaftarkan seluruh kemampuannya pada lembar akreditasi demi sebuah prestise kosong, melainkan laboratorium yang tahu persis di mana batas antara kebanggaan teknis dan kecerdasan finansial. Dengan enam strategi ini, Anda tidak hanya menyelamatkan kualitas pengujian, tetapi juga menjaga denyut nadi laboratorium tetap berdetak kuat untuk jangka waktu yang panjang.

Blog Post

Related Post

Back to Top

Cari Artikel

Label