Romantisme kerap disalahpahami sebagai sekotak mawar merah muda atau sebaris kalimat manis di bawah pendar lilin, padahal bagi sebagian lelaki, cinta justru menetas dari peluh yang mengering di remang senja. Ia pulang dengan pundak yang masih memikul sisa-sisa bising kota, menyusuri trotoar basah sehabis gerimis, namun di kepalanya hanya berputar senyum seseorang yang setia menunggunya di ambang pintu. Cinta, pada akhirnya, bukanlah tentang hal-hal yang gemerlap, melainkan seberapa tabah seorang lelaki merawat kepulangannya, membawa rindu yang diam-diam ia selipkan di antara lipatan kemejanya yang kusut masai.
Di sebuah persimpangan
yang temaram, langkahnya terhenti pada pendar lampu gerobak kaki lima yang
mengepulkan aroma adonan. Ia tak membeli perhiasan atau kemewahan, melainkan
menebus seplastik gorengan yang kehangatannya menjalar, mengusir dingin dari ujung-ujung
jarinya. Bungkusan plastik yang mengembun itu berayun-ayun seirama dengan irama
sepatunya, seolah menjadi detak jantung kedua yang menghidupkan malam. Ada
tempe mendoan yang setengah melankolis dan bakwan yang menyimpan renyah
harapan; kesemuanya ia bawa pulang sebagai semacam sajak paling purba tentang
bagaimana seorang lelaki mengeja kata peduli tanpa pernah merasa perlu
mengucapkannya.
Ketika pintu rumah
berderit terbuka, yang ia serahkan kepada perempuan pujaannya bukanlah sekadar
makanan ringan penutup hari, melainkan sekeping usianya yang telah ia tukar
dengan kerasnya waktu. Di ruang tamu yang sederhana itu, di antara seplastik
gorengan yang berminyak dan segelas kopi yang baru saja diseduh, mengalirlah
puisi paling mewah dari seorang pekerja keras: aku selamat melewati hari
ini, dan aku memilih untuk merayakannya bersamamu. Sebab barangkali,
begitulah sejatinya takdir romantisme kaum lelaki; mereka mungkin tak pernah
pandai meracik gombalan, namun selalu tahu ke mana harus berjalan pulang,
membawa kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang membuat dunia ini tak terasa terlalu
sepi.
