menu melayang

Penyebab otak menjadi "lemot", overthinking, dan kebiasaan modern yang merusak otak

Berikut adalah ringkasan lengkap dari podcast antara Rory Asyari dan Associate Professor Dr. Rizki Edmi Edison, Ph.D. (Ilmuwan Otak dan Perilaku / Applied Cognitive Neuroscientist) yang membahas penyebab otak menjadi "lemot", overthinking, dan kebiasaan modern yang merusak otak:




1. Mengapa Otak Terasa Lemot dan Mengalami Brain Fog?

Otak terasa lemot bukan karena kita kelelahan secara fisik, melainkan justru karena kurangnya aktivitas fisik namun otak terus-menerus dipaksa bekerja memproses informasi. Di era modern, kebiasaan terus menatap layar dan memproses informasi yang cepat membuat energi otak terkuras habis, sehingga menurunkan rentang perhatian (attention span).

2. Kebiasaan Modern yang Merusak Otak Secara Perlahan

Dr. Edmi menyebutkan ada beberapa kebiasaan hidup yang membuat otak kita cepat lelah dan kehilangan fungsi optimalnya:

  • Scrolling Media Sosial Secara Unmindful: Informasi di media sosial berjalan sangat cepat (hook 3-6 detik). Otak dipaksa memproses stimulasi terus-menerus tanpa henti. Kebiasaan ini perlahan merusak kemampuan otak untuk mempertahankan fokus dan atensi.
  • Multitasking: Secara sains, tidak ada yang namanya multitasking. Yang dilakukan otak sebenarnya adalah rapid task-switching (berpindah-pindah tugas dengan cepat). Hal ini sangat menguras glukosa dan oksigen di otak, sehingga membuat kita lebih cepat letih dan kehilangan fokus.
  • Gaya hidup pasif (sedentary) sambil rebahan: Menggunakan smartphone terus-menerus sambil tiduran dan mengemil adalah kombinasi paling mematikan bagi kesehatan otak.

3. Pentingnya "Bengong" (Melamun) di Era Digital

Dr. Edmi menekankan bahwa memiliki waktu untuk "bengong" atau melamun adalah sebuah kemewahan (luxury) di era hustle culture ini.

  • Saat kita bengong, otak masuk ke dalam mode Default Mode Network.
  • Di fase inilah otak beristirahat, memfilter informasi-informasi yang sudah masuk, dan merangkainya menjadi ide-ide kreatif atau inovasi baru.
  • Banyak ide brilian muncul saat di kamar mandi atau mencuci piring karena pada saat itu kita sedang "bengong" secara pikiran.

4. Cara Efektif Bekerja Agar Otak Tidak Cepat Lelah

  • Terapkan Single Tasking & Time Blocking: Fokus pada satu pekerjaan saja (misal menggunakan teknik Pomodoro: 20 menit kerja fokus, lalu 5 menit istirahat).
  • Cara Istirahat yang Benar: Saat jeda istirahat 5 menit, jangan buka smartphone/media sosial karena itu sama saja memaksa otak kembali bekerja mencari atensi. Berdirilah, berjalan kaki sejenak, atau buat kopi.
  • Aktivitas berdiri dan berjalan memompa aliran darah dari kaki (betis) kembali ke atas jantung dan menuju ke otak, membawa suplai oksigen serta glukosa yang sangat dibutuhkan otak untuk kembali segar.

5. Manfaat Tidur Siang (Napping)

Tidur siang sangat dianjurkan untuk menjaga fungsi kognitif otak hingga sore/malam hari. Namun, durasi tidur siang yang ideal hanyalah 10 hingga 20 menit. Jika lebih dari itu, tubuh akan masuk ke siklus tidur yang lebih dalam, dan jika terbangun justru akan membuat badan terasa lemas.

6. Perbedaan Overthinking dan Anxiety (Kecemasan)

  • Overthinking berkaitan dengan masa lalu: Biasanya berakar dari trauma atau kegagalan masa lalu. Cara mengatasinya adalah dengan melakukan refleksi diri dan mulai menciptakan memori-memori baru yang berhasil/positif untuk menimpa trauma tersebut.
  • Anxiety berkaitan dengan masa depan: Rasa cemas muncul karena kita tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Cara menurunkannya adalah dengan mencari alternatif atau membuat situasi lebih bisa diprediksi (predictable), misalnya memilih naik kereta yang jadwalnya pasti ketimbang mobil yang rawan macet tak terduga.

7. Kecerdasan (IQ) vs Kecerdasan Emosional (EQ)

IQ tinggi belum tentu menjamin kesuksesan di dunia nyata. Tes IQ dilakukan di kondisi yang sangat terkontrol tanpa distraksi, padahal kehidupan nyata penuh dengan emosi, stres, dan gangguan.

  • Sistem limbik (pusat emosi) dan Prefrontal Cortex (pusat logika/analitis) di otak berjalan berlawanan arah.
  • Jika emosi tidak terkontrol, logika tidak akan bisa bekerja maksimal. Oleh karena itu, Kecerdasan Emosional (EQ) dan kemampuan meregulasi emosi jauh lebih krusial dalam keseharian agar logika kita bisa difungsikan dengan baik.

8. Mitos Otak Kanan (Kreatif) dan Otak Kiri (Logika)

Dr. Edmi membantah keras mitos dikotomi otak ini dan menyebutnya sebagai HOAX.

  • Logika, pemikiran kritis, hingga imajinasi sebenarnya semuanya diatur di bagian depan otak (Prefrontal Cortex).
  • Pembagian dominasi belahan otak sebenarnya lebih merujuk pada pusat bahasa. Pada umumnya (terutama bagi yang dominan tangan kanan), otak kiri adalah pusat untuk memproses bahasa verbal (kata-kata). Sedangkan otak kanan memproses bahasa non-verbal (intonasi suara, ekspresi wajah, empati) yang justru dampaknya lebih kuat dalam komunikasi sehari-hari dibanding sekadar ucapan.

9. Tiga Langkah Menjaga Fungsi Otak Tetap Tajam

Sebagai kesimpulan, Dr. Edmi menyarankan 3 hal utama untuk menjaga kecerdasan kognitif otak:

  1. Olahraga Teratur: Tidak perlu intens atau memikirkan aturan 10.000 langkah (yang ternyata hanya mitos marketing dari Jepang). Berjalan kaki 20-30 menit atau sekadar naik-turun tangga dan menyapu rumah sudah sangat cukup.
  2. Perhatikan Asupan Makanan: Berhentilah makan sebelum kenyang. Jangan jadikan rasa "perut penuh" sebagai patokan, tapi perhatikan kecukupan kalorinya. Makan berlebih hanya akan membuat ngantuk dan menurunkan fungsi otak.
  3. Bersosialisasi: Berinteraksilah dengan orang lain secara tatap muka (bagi introvert, cukup dengan orang-orang terdekat/pasangan). Selain itu, kembalikan kemampuan rentang atensi kita dengan mulai berlatih mengonsumsi konten panjang seperti membaca buku/novel kembali.

 


Blog Post

Related Post

Back to Top

Cari Artikel

Label